Kado Istimewa Buat Bung Karno

soekarno 337

Masa Revolusi merupakan masa penuh kenangan. Terkadang kita terhanyut dengan ketegangan yang begitu mencekam, namun dilain waktu kita terkadang harus terawa lepas mengenang peristiwa dimasa Revolusi. Tapi yang jelas masa Revolusi merupakan sejarah emas dimana setiap anak bangsa berusaha memberikan bukti kecintaan dan perjuangannya untuk negeri tercinta.

Bung Karno sendiri selaku simbol pemersatu bangsa dan sekaligus Presiden RI waktu itu tak jarang menerima berbagai kalangan yang ingin mewujudkan kecintaannya pada negeri ini atau kecintaan dan tanda penghormatan kepada Presiden Soekarno secara pribadi. Kisah dibawah ini hanya serpihan kecil dari berbagai kisah di jaman Revolusi.

Sebagai seorang Presiden tak heran bila Bung Karno memiliki seorang Sekretaris, salah satunya berasal dari pulau Tello.
Pulau cantik yang terletak di Kepulauan Nias Selatan. Ia, suatu hari di tahun 1948, berpamitan kepada Bung Karno untuk bergabung dengan para gerilyawan, masuk hutan, membaur dengan rakyat, dan bertempur melawan agresor Belanda yang mencoba merampas kemerdekaan kita.

Bung Karno tak dapat menolak, maka ia pun melepas sang sekretaris memanggul senjata, bergabung dengan gerilyawan di bawah komando pusat Panglima Perang Jenderal Soedirman. Para gerilyawan yang gagah berani, memang tidak hanya didominasi kaum laki-laki, tetapi juga menyeret kaum perempuan, tanpa paksaan. Mereka mengganti perhiasan dengan selempang peluru dan senapan yang mengkilat.

Bung Karno sendiri tidak pernah putus berkomunikasi dengan para gerilyawan. Terlebih, pada masa-masa tahun 1948 (sebelum peristiwa penangkapan Bung Karno oleh Belanda), Bung Karno dan keluarga hampir tiap hari melakukan perjalanan ke Madiun untuk sekadar mengelabui tentara Belanda. Di sisi lain, gerilyawan sudah menjadi momok bagi tentara Belanda. Apalagi, perlawanan gigih tentara kita, telah mengundang reaksi dunia. Dunia mengecam Belanda.

Tibalah pada satu peristiwa yang tak pernah dilupakan Bung Karno. Dan itu, termasuk yang disinggung di dalam buku biografinya yang ditulis Cindy Adams. Peristiwa di saat eks sekretaris asal Pulau Tello yang cantik itu datang khusus menemui Bung Karno membawa keranjang. Hal itu memancing rasa ingin tahu Bung Karno, “Apa isi keranjang itu?”

“Bapak betul-betul mau melihatnya?” tanyanya.

“Ya, mengapa tidak.”

Gadis gerilyawan asal Pulau Tello itu pun membuka keranjang, dan menggelindingkan kepala seorang Belanda yang masih berdarah. Kepala bergulir hingga ke dekat kaki Bung Karno. “Inilah tanda kemenangan saya yang pertama, Pak,” teriaknya dengan riang, “oleh-oleh untuk Bapak.”

Terkesiap Bung Karno… darah berdesir cepat, “Bawa keluar!!!” teriak Bung Karno. “Bawa keluar!!!”

Salam: Revolusi

Persahabatan Bung Karno Dan Mutahar

257624825b1fabff large

Mutahar dan Soekarno

Mutahar, mungkin ini sebuah nama yang sederhana, pribadi yang sederhana namun memiliki pengalaman hidup yang tidak sederhana. Betapa akan dikatakan sederhana bila seseorang memiliki kedekatan pribadi dengan Bung Karno. Bagi mereka yang pernah ikut dalam PASKIBRAKA tingkat Nasional nama ini tentu tak asing lagi, karena disinilah Kak Mut demikian biasa dipanggil mengabdikan diri di usianya yang telah senja.

Tulisan dibawah ini tak lebih dari sepenggal kisah yang pernah diungkap oleh Kak Mutahar:

BUNG Karno (BK) lahir di Blitar dan tumbuh di masa sulit serta penuh perjuangan. Sebagai orang Jawa Timur bicaranya cep las ceplos tanpa tedeng aling-aling. Suaranya mungkin terdengar kasar, tetapi memang itulah Soekarno. Kalau sedang marah, semua keluar dengan seketika. Tapi, secepat itu pula ia minta maaf bila merasa ada kata-katanya yang menyinggung perasaan.

Suatu hari, ajudan BK datang ke rumahku dan bilang, “Pak Mutahar dipanggil menghadap Bapak (BK) di istana.” Aku jawab, “Baik, saya ganti baju dulu dan nanti menyusul ke istana.” Tetapi si ajudan bertahan, “Tadi Bapak pesan Pak Mutahar harus ikut bersama saya.”

Wah, sepertinya penting sekali. Maka aku bergegas, dan sesampai di istana langsung menuju ke ruang kerjanya. Kulihat muka BK kusut dan sepertinya sedang marah besar. “Mut, kamu tahu kenapa aku panggil?” Aku menjawab santai, “Lha ya nggak tahu. Wong Bapak yang manggil saya, mana saya tahu.”

“Aku mau marah!” hardik BK lagi. “Ya marah aja. Mau marah kok nunggu saya,” jawabku sekenanya, karena aku kenal betul sifatnya.

Ternyata, jawabanku itu membuatnya benar-benar marah. Dalam bahasa Belanda BK mengeluarkan unek-uneknya selama hampir dua jam, padahal aku tidak tahu sebabnya. Aku mendengarkan saja, sampai kemarahan itu kendor dan akhirnya BK diam. Aku lalu bilang, “Bung, marahnya sudah selesai kan? Kalau sudah, aku tak pulang…”

BK langsung melotot ke arahku. Dalam hati aku berkata, “Wah, salah omong aku. Bisa-bisa dia marah lagi…” Tapi ternyata tidak, karena mata-nya kembali meredup. “Ya sudah, pulang sana!” katanya memerintah.

“Kalau begitu saya pamit,” jawabku sambil keluar dan terus pulang. Tapi tak lama kemudian, ajudannya datang lagi ke rumahku.

Aku langsung menyambar, “Ada apa? Saya dipanggil lagi untuk dima-rahi ya?” Sang ajudan cuma mesem-mesem. “Nggak kok Pak Mut. Saya disuruh Bapak ngantar ini,” katanya sambil menyerahkan tas — yang setelah kubuka ternyata isinya berbagai macam kue.

Sambil mengucapkan terima kasih kepad si ajudan, aku tersenyum. “Dasar wong gendeng. Kalau bar nesu (habis marah) ngirimi kue, ya sering-sering aja marah biar giziku terjamin,” kataku dalam hati.

Esoknya aku bertemu lagi dengan BK dan kulihat wajahnya sumri-ngah. Maka aku menegur, “Bung, kalau masih mau marah sama saya, silahkan. Tapi jangan lupa kuenya dikirim lagi.”

BK tertawa keras. “Mut, kamu tahu kenapa saya marah?” Aku menjawab, “Ya nggak tahulah. Wong Bapak marahnya banyak sekali, jadi saya nggak ingat.”

“Makanya aku panggil kamu untuk aku marahi. Lantaran aku tahu kamu pasti tutupi kupingmu dengan kapas biar nggak dengar omong-anku,” kata BK sambil ngeloyor pergi. ***

Salam Revolusi

Tertawa Bersama Bung Karno 5

soekarno 1711

Plat Nomer Kepresidenan

Seandainya saya dapat berbicara langsung dengan para mantan ajudan Presiden Soekarno saya yakin tak akan ada rasa kantuk walau semalaman mendengar cerita tentang keseharian Bing Karno.

Terlalu banyak hal yang dapat digali dari keseharian Pemimpin Besar Revolusi ini. Dan tak jarang kita dengar bagaimana Bung Karno melempar jauh sebuah kaedah apabila dia telah berkehendak atau memerintahkan sesuatu.
Cuplikan Kisah dibawah ini mungkin hanya sebuah percikan kecil dari keseharian Putera Sang Fajar ini.

Bung Karno yang flamboyan ini ternyata pernah ’’melanggar’’ peraturan lalu lintas.

Apakah Bung Karno melanggar lampu merah atau ngebut? Bukan. Bung Karno

membuat plat nomor mobil sendiri. Plat nomor tersebut adalah REP 1. Padahal, polisi telah melarang. Selain itu, tangan Bung Karno juga terjepit pintu mobil sehingga berdarah. Dia juga terseret mobil. Bagaimana ceritanya? Berikut lanjutan kisah-kisah kecil Bung Karno sebagaimana ditulis Mangil dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967.

PALING tidak, ada satu perbedaan antara plat nomor mobil dinas Bung Karno dengan plat nomor mobil dinas Soeharto. Plat nomor mobil Bung Karno adalah REP 1.

Sementara, plat nomor mobil Soeharto, pria yang pernah mendapat gelar bapak pembangunan Indonesia itu, adalah INDONESIA 1 atau B 1.

Dari mana Bung Karno mendapatkan plat nomor nyentrik tersebut? Dari pihak kepolisiankah? Ternyata bukan. Bung Karno yang berpostur tinggi besar ini membuat sendiri plat nomor tersebut. Ceritanya, Bung Karno baru pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Ketika itu, ibu kota Indonesia memang dipindahkan dari Jakarta ke kota gudeg itu.

Suatu hari, Mangil diperintah Bung Karno untuk minta plat nomor mobil kepada polisi Yogyakarta. Mangil lantas menghadap Kepala Polisi Lalu Lintas Soenarjo untuk meneruskan permintaan Bung Karno supaya mobil merek Buick yang dibawa Bung Karno dari Jakarta diberi nomor polisi REP 1. Sayangnya, permintaan Bung Karno ini tak dikabulkan Soenarjo dengan penjelasan tidak ada dalam undang-undang dan peraturan lalu lintas. Jadi, permintaan presiden ini tidak dapat dikabulkan polisi. Mangil melaporkan hal tersebut kepada Bung Karno. Setelah mendengar laporan ini, Bung Karno berkata, ’’Ya sudah, tidak apa-apa. Saya akan bikin sendiri plat nomor mobil itu.’’

Bung Karno lalu memerintah sopirnya, Arif, untuk membuat plat nomor REP 1. Setelahselesai, dipasanglah plat tersebut di mobil Bung Karno di depan dan di belakang. Plat ini selalu dipakai Bung Karno dalam perjalanan resmi dalam kota Yogyakarta dengan dikawal polisi lalu lintas anak buah Soenarjo. Dalam perjalanan ke luar daerah Yogyakarta pun, mobil Bung Karno selalu memakai nomor REP 1.

Selain mobil Buick, di istana masih ada mobil-mobil lain. Misalnya, mobil bercat sawo

matang pinjaman Sri Paku Alam. Orang-orang di istana bisanya menamai mobil ini Tenno Heika. Mangil mengaku tidak tahu siapa yang memberi julukan itu pada si Coklat. Selain itu, ada mobil bercat hitam yang dipakai pejabat tinggi kepresidenan, mobil bermerek de Soto dan satu lagi bermerek Cadillac.

Salam Revolusi

Tertawa Bersama Bung Karno 4

sukarnotumb

Latar belakang seorang pemimpin pada dasarnya akan menentukan corak kepemimpinannya dimasa mennadatang.

Rumus diatas ternyata menimpa pula sang Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Kita semua tahu bahwasanya Bung Karno dibesarkan didunia politik dan jauh dari dunia militer, hal ini berdampak sangat besar pada saat Bung Karno telah menjabat Presiden RI. Dibanding dengan para politikus dan tokoh partai maka dapat dikatakan hubungan Bung Karno dengan ABRI dirasa kurang mesra terlebih dengan AD. Era kepemimpinan Soekarno merupakan masa kejayaan tokoh partai dan kalangan politikus sementara ABRI bagaikan suatu lembaga yang nyaris terabaikan. Hal ini terkadang menimbulkan suasana yang cukup menegangkan, atau bahkan sering menimbulkan cerita konyol.

Ada cerita di tahun 1946 BungKarno nanya ke Ajudannya :
“Heh, Paimin pangkat kamu apa sekarang?”

“Letnan, Pak”

“Mulai sekarang kamu Kapten” si Paimin yang Kapten itu langsung pulang ke rumah yang letaknya cuman sebelas meter dari Istana Presiden dan jingkrak-jingkrak di depan isterinya. “pangkat aku Kapten sekarang…”

Nggak lama Paimin dateng lagi ke Istana, dan lihat Bung Karno lagi ngobrol dengan seseorang. Bung Karno yang lagi ketawa-tawa itu nanya sama orang disebelahnya. “Lihat tuh paimin baru tadi saya naikkan pangkatnya menjadi Kapten”

“Hah, Kapten??” sergah orang yang ditanyai Bung Karno.

“Ya memang kenapa…ketinggian ya?” tanya Bung Karno.

“Bung, asal Bung tahu ajudannya Ratu Inggris saja itu Kolonel penuh seorang Obers, masak ajudan bung cuman Kapten.

Muka Bung Karno merah, lalu Bung Karno panggil itu Paimin. “Heh,Paimin kesini kamu”

“Siap Presiden”

“Mulai sekarang Pangkat kamu Mayor” kata Bung Karno sambil garuk-garuk jidatnya. Terus tangan Bung Karno notok badan Paimin. “Kalo dadi ajudan sing tenanan ojo keakehan gojekan”

“Siap Presiden”

Paimin mukanya pucat, bayangkan enggak sampai dua jam pangkatnya naik dua kali.

Kata Brigjen Sugandhi, eks Ajudan Bung Karno…kalo mau jadi ajudan itu harus rela jadi Paidon (diludahin) ini ungkapan Jawa untuk mengartikulasi peran ajudan yang bersedia menerima sumpah serapah majikannya bila nggak mood. Brigjen Sugandhi inilah yang mengadu ke Bung Karno bahwa dia mendengar PKI mau berontak dari DN Aidit, hanya saja aduan Sugandhi ditentang oleh Maulwi Saelan, ajudan Bung Karno juga yang adiknya menikah dengan Jenderal Jusuf.

Salam: Revolusi

Soekarno Bukan Dewa

soekarno 6

Pasca keruntuhan Orde Baru seolah menjadi lampu hijau untuk bangkitnya kembali Soekarnoisme di Indonesia. Bagaikan orang yang berpuasa untuk mengagungkan Soekarno, maka bedug keruntuhan Orde Baru dijadikan saat yang tepat untuk melepas kehausan sepuas-puasnya terhadap figur Soekarno.
Seiring kondisi di atas ada pertanyaan yang harus kita jawab dengan akal sehat, bukan dengan memori indah masa lalu. “Layakkah Soekarno memperoleh sanjungan yang tak berbatas itu ?” Jawabnya adalah “tidak, sekali lagi tidak.” Jawaban ini saya yakin menimbulkan kemarahan bagi para Soekarnoisme. Tetapi memang itu yang harus saya katakan.
Sebagai seorang orator maka saya mengacungkan jempol untuk Soekarno. Sebagai pemersatu bangsa, Soekarno tiada duanya. Sebagai Proklamator, jangan coba-coba ada yang mengingkari. Tetapi sebagai pemimpin besar bangsa ini kita harus berfikir secara jernih.
Pola pikir Soekarno dan penghormatan rakyat lapisan bawah akan lebih tepat seandainya Soekarno menjadi “Raja Indonesia” dan memimpin bangsa ini dijaman kerajaan.
Ada beberapa hal yang dimiliki Soekarno yang hanya layak diperoleh dan dilakukan oleh seorang raja diantaranya:
1. Presiden seumur hidup.
2. Demokrasi terpimpin.
3. Kultus individu.
4. Adanya lebih dari satu istri .

Presiden seumur hidup: Pengangkatan dirinya (tidak adanya penolakan) sebagai Presiden seumur hidup merupakan pemutar balikan secara drastis apa yang selama ini selalu dia perjuangkan. Menghapus feodalisme di Indonesia. Indonesia harus menjadi negara demokrasi demikian selalu Soekarno katakan, dan sendainya bukan Soekarno yang diangkat menjadi presiden seumur hidup maka saya yakin dia akan menjadi orang terdepan yang memprotes keputusan tersebut. Kepentingan pribadi telah berada di atas visi perjuangan Soekarno. Dan hanya seorang raja yang berhak atas pengangkatan tersebut. Soekarno mencoba menembus dinding sebagai “Presiden RI” menuju “Raja Indonesia”
Demokrasi terpimpin: Demokrasi yang bertanggung jawab dan beretika adalah suatu keharusan, tetapi demokrasi terpimpin merupakan bibir otoriter yang dibalut gincu demokrasi. Kondisi yang demikian hanya patut terjadi dijaman kerajaan. Adakah faktor usia telah membuat Soekarno lupa bahwa dia hidup di Negara Demokrasi bukan dijaman kerajaan.
Kultus Individu yang terlalu dominan dan terkadang berbau mistik makin melengkapi Soekarno untuk menjadi seorang raja. Peci, tongkat komando sering menimbulkan kisah mistik laksana busana dan keris para raja. Soekarno sebagai seorang intelektual seakan-akan membiarkan semua itu semakin berkembang, termasuk gambar di atas mungkin lebih layak diterima seorang raja bukan seorang Presiden.
Keberadaan lebih dari satu istri lebih mendekatkan Soekarno sebagai seorang raja, dan hal tersebut dianggap wajar untuk seorang Soekarno. Kultus individu telah menutup mata semua elemen bangsa saat itu. Setiap kunjungan ke luar negeri selalu mengisahkan cerita kecil tentang Soekarno dan wanita. Termasuk saat bung Karno hendak membeli BH di sebuah pertokoan di luar negeri, ia tak segan memajang semua pramu niaga wanita guna mencari ukuran yang pas. Etiskah itu dilakukan oleh seorang kepala Negara ? dan begitu pentingkah BH tersebut sehingga harus dibeli disela-sela kunjungan sebagai kepala Negara. Dimanakah nama bangsa yang terkenal dengan sopan santunnya ?
Bagi anda yang pernah membaca Sewindu Dekat Bung Karno, tentu akan menemui cuplikan cerita bagaimana seorang ajudan Presiden (Kol. KKO. Bambang Wijanarko) diminta untuk mencari teman kencan pada malam hari, dan harus menceritakan kemesuman yang terjadi pada malam itu pada saat sarapan pagi keesokan harinya. Adakah hal ini lazim dilakukan oleh seorang Presiden ?
Kondisi pada saat itu membuat semua orang takut untuk memberikan peringatan kepada Soekarno, pers kehabisan tinta untuk menulis dan akhirnya diam bahkan menyebut itu semua sebagai kelebihan dari sosok Soekarno, karena semua sadar apabila hal itu dilakukan maka tangan besi Soekarno sebagai jawabannya. Pada prinsipnya tangan besi Soekarno tak jauh berbeda dengan tangan besi seorang raja, serta saudara kembar dari system Soeharto. Merah hitam Indonesia ditentukan oleh Soekarno.
Mari kita bedah nurani ini, dan tempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, termasuk sosok Soekarno. Namun demikian, masih banyak sumbangsih Soekarno untuk bangsa ini. Dan tidak terlalu berlebihan apa bila berdasar pada sisi positif perjuangan Soekarno maka pemerintah menetapkan serta mengangkat Soekarno menjadi Pahlawan Nasional.

Salam Revolusi

Presiden Yang Sensitif

soekarno 219

Melihat gambar di atas maka yang ada dalam fikiran kita adalah sosok Bung Karno yang begitu keras dan ganasnya dalam mempertahankan ide-idenya bahkan dalam kancah Politik International. Tapi benarkah Bung Karno demikian kerasnya ? Mungkin tulisan di bawah ini dapat sedikit memberikan gambaran tentang bagaimana nurani Bung Karno yang sebenarnya.

BK sering berziarah, nyekar ke makam ayahnya di Pemakaman Karet, Jakarta. Kadang-kadang di malan hari, tetapi sering pada siang hari, dan melihat gelandangan mengemis. Suatu hari di istana, sekembalinya dari nyekar, BK memanggil Mangil dan berkata, “Coba, Mangil, engkau tanya sama orang sedang menggendong anak kecil sambil menyusui itu, sebetulnya mereka itu punya rumah apa tidak, baik di Jakarta maupun di daerah. Dan kalau memang tidak punya rumah, apakah mereka itu sanggup dipindahkan ke tempat lain. Agar kalau Bapak jalan lewat di tempat itu, orang perempuan yang menggendong anak kecil sudah tidak ada di sana. Saya merasa kasihan sekali kepada perempuan yang menggendong anak kecil itu. Entah bagaimana caranya, ini Bapak ada uang sedikit, kasihkan kepada mereka.”

Selain benci penjajahan dan penindasan, Bung Karno juga tidak senang melihat burung dalam sangkar. Pada suatu hari, BK mengadakan inspeksi mendadak ke asrama DKP, yang letaknya berjejer dengan Istana Merdeka. BK segera memanggil pemilik burung serta memerintahkan melepaskannya.

Kata Bung Karno, “Kasihan burung itu, biarkan dia mencari makan di alam bebas. Kamu orang belum pernah mengalami bagaimana susahnya orang ditahan, dipenjarakan tanpa ada kesalahan. Maka, jangan ada pengawal saya memenjarakan burung dalam sangkar, sekalipun sangkarnya dari emas.”

Suatu ketika BK sedang menonton film di istana, ada adegan kijang kesakitan, ditembak seorang pemburu sementara kijang itu masih mempunyai anak yang harus disusui. Beberapa penonton, baik pelayan maupun pengawal, ketawa cekikikan, karena menurut pemandangan mereka adegan tersebut sangat lucu. Bung Karno langsung berteriak, “Diam, kamu orang itu tidak tahu rasa kasihan.” Penonton langsung cep klakep, tidak ada yang berani berkutik.

Di sekitar Kandangan, Jawa Timur, tempat BK diungsikan ketika Yogyakarta diserang Belanda, 21 Juli 1947, masih banyak kijang liar. Suatu hari, seorang pengawal berhasil menembak mati seekor kijang. Lalu dagingnya dimasak dan dibagi-bagikan kepada semua teman pengawal. Daging terbaiknya disisakan untuk dibuat dendeng. Setelah siap, dendeng itu diserahkan kepada koki yang memasak makanan untuk BK.

Bung Karno tahu, dendeng itu hasil berburu. Akibatnya, para pengawal, dikumpulkan oleh BK. Lalu, ia berkata, “Kamu orang ini betul-betul tidak mempunyai rasa kasihan kepada sesama hidup. Apa salahnya kijang itu kamu tembak? Bagaimana kalau kijang yang kamu tembak itu masih mempunyai anak kecil yang masih memerlukan pertolongan induknya? Apakah kamu orang di sini kekurangan makan?” Semua pengawal diam dan mulai saat itu tidak ada lagi anggota pengawal yang berburu.

Bung Karno yang gagah dan lantang membangkitkan semangat rakyat (pemuda) untuk mengusir Belanda dengan semboyan: “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”, ternyata juga pernah menangis.

Tanggal 18 Juli 1955, BK naik haji ke Tanah Suci Mekkah. Ia bersama beberapa rombongan sempat mengheningkan cipta, dan berdoa di samping makam Nabi Muhammad di Madinah. Saat itu BK menangis seperti anak kecil.


Salam Revolusi

Presiden Jenius

gelar doktor


Soekarno merupakan sosok yang paling tabu untuk menundukkan muka di hadapan orang lain. Rasa percaya diri yang tinggi menjadi bekal bagi Putera Sang Fajar ini disaat menjadi Presiden RI Pertama, dan harus mengangkat nama Indonesia sebagai Negara yang baru terlahir untuk duduk sejajar dengan Negara lain. Sekali lagi Soekarno pantang menundukkan kepala.

Namun demikian untuk menopang ego yang begitu tinggi maka bangkitlah Soekarno sebagi seorang yang haus akan ilmu. Tak ada batasan disiplin ilmu yang dipelajarinya. Dan hal ini terpupuk sejak masa kanak-kanak.

Kondisi jaman yang serba sulit untuk para pribumi tidak membuat Soekarno kehabisan semangat untuk maju, tapi justru dia semakin liar dalam melahap berbagai ilmu. Soekarno menjadi salah satu siswa minoritas di HBS Surabaya. Dia menjadi 1 diantara 20 siswa pribumi yang ada disana dari total 300 siswa yang ada.

Usia belum genap 16 tahun Soekarno muda telah menempatkan karya orang-orang besar dibalik dinding otaknya yang cerdas. Gairah untuk merdeka telah menjadikan Bung Karno mengagumi tokoh-tokoh besar perintis kemerdekaan. Dalam khayalnya Bung Karno merasa punya ikatan batin yang kuat dengan Thomas Jefferson yang menorehkan Delaration of Independence pada tahun 1776, George Washington, Abraham Lincoln seakan-akan teman diskusi bagi Bung Karno, karena gagasan kedua tokoh ini telah menjadi kajian yang dalam bagi Bung Karno. Dan yang terisimewa adalah ajaran Karl Marx, tokoh ini sempat membayangi pola fikir Bung Karno saat menjabat sebagai Presiden RI dan Pemimpin Besar Revolusi.

Dalam hal banyaknya buku, pemahaman terhadap gagasan orang-orang besar maka Bung Karno laksana perpustakaan yang perjalan. Jangan ajak dia berdiskusi masalah politik, kareana itu sudah menjadi darah dagingnya. Jangan ajak Soekarno berdebat masalah agama, karena dia laksana seorang santri yang telah puluhan tinggal di pesantren, jangan ajak Soekarno berargumentasi masalah bunga, karena hampir semua tanaman yang ada di Istana Negara Soekarno dengan fasih dapat menyebut nama latin tanaman tersebut serta bagaimana cara merawatnya. Menghadapi beberapa Kepala Negara, Bung Karno dapat dengan tangkas melayani obrolan dengan beberapa bahasa yang di gunakan. Menguasai beberapa bahasa merupakan serpihan kecil diantara beberapa kelebihan Soekarno. Maka tak heran bila Presiden Soekarno merupakan satu-satunya Presiden yang 26 gelar Doktor HC.

Berbagai gelar Doktor HC diperoleh Presiden Soekarno dari:

Filipina: Far Eastern University, Manila (Gelar Doktor HC pertama yang dimiliki Bung Karno)

Universitas Gajah Mada Yogyakarta (19 September 1951)

Universitas Berlin ( Bidang Ilmu Tekhnik, 17 April 1960)

Institut Tekhnologi Bandung (13 September 1962)

Universitas Al Azhar, Kairo pada 24 April 1960 dalam ilmu Filsafat

IAIN Jakarta dalam Ushuludin Jurusan Dakwah pada 2 Deember 1963

Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk Falsafah Ilmu Tauhid pada 1 Agustus 1965

Universitas Indonesia (2 Februari 1963) dalam Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan

Universitas Hasanuddin (25 April 1963) dalam Imu Hukum

Universitas Padjadjaran (23 Desember 1964) dalam Ilmu Sejarah

Inilah sosok Presiden yang pernah kita miliki, dan layakkah dia dipuja sebagai dewa, atau kita kutuk laksana iblis. Semua keputusan ada di tangan anda. Dan biarlah sejarah yang menjadi saksinya.

Salam Revolusi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 143 pengikut lainnya.