Buku Harian Inggit Garnasih 1

Soekarno (247)

Andai Inggit pandai menulis buku harian, mungkin dia akan banyak bercerita tentang aku. Dan akupun ingin menulis tentang Inggit”

Walau dengan perasaan yang terluka, Inggit pun bertutur:

Aku masih ingat bagaimana pada mulanya ia, Kusno, atau Soekarno itu sampai di rumah kami. Suamiku, Sanusi menerima sepucuk surat dari HOS Tjokroaminoto. Surat itu menceritakan tentang anaknya, lebih tepat menantunya, yang akan bersekolah di Bandung, dan meminta agar kami mencarikan sebuah pemondokan baginya.

Dimana kira-kiranya kita bisa tempatkan dia ? tanya suamiku.

Aku tak bisa memberikan jawaban segera. Sejenak aku terdiam. Tetapi kemudian aku berkata, Susah kita mesti melayaninya dengan istimewa. Dan satu lagi. Tentu bakal banyak temannya.yang akan keluar masuk ke rumah kita.

Dimataku memang ia juga bukan seseorang yang harus dimanja. Tetapi pada saat-saat ini aku masih keberatan juga untuk menerimanya di rumah kami. Namun akhirnya kami mendapatkan kesepakatan, bahwa untuk sementara bisalah kami tempatkan dia di kamar depan, sambil mencari tempat yang lebih pantas, rumah yang lebih memadai dan yang lebih disukainya.

Akhirnya yang kami tunggu-tunggu muncul juga, diantar oleh suamiku yang menjemputnya di stasiun. Dengan mengenakan peci beludru hitam kebanggaannya, pakaian putih-putih. Cukupan tinggi badannya. Ganteng. Anak muda yang pesolek, perlente. Diatas segalanya, aku sudah terpengaruh oleh cerita orang sebelumnya, bahwa ia pemuda harapan bangsa di masa depan. Ia cakap berpidato, penerus bapak HOS Tjokroaminoto.

Sejak bertemu dan bersalaman, pemuda itu sudah menyenangkan. Ia gampang bergaul, dan ia dengan roman muka menggembirakan mau menerima apa saja yang aku hidangkan.Ia juga seorang yang benar-benar periang, jauh lebih periang dibandingkan dengan suamiku. Percakapannya menghidupkan rumah kami.

Mendengar ia menolak untuk dicarikan tempat lain yang lebih pantas dan menyenangkan, aku menjadi tak keruan. Jadi bertambah bebanku. Namun aku tak mengeluh, karena sudah terbiasa suamiku membawa banyak temanku ke rumah ini. Terutama kalau ada pertemuan Sarekat Islam.

Semenjak kedatangan Kusno, rumah kami menjadi jauh lebih ramai dikunjungi orang. Kusno yang oleh teman-temannya dipanggil Soekarno, cepat mempunyai banyak teman. Ia banyak menjadi perhatian banyak kawannya karena kecakapannya berbicara, kecapakapannya menjelaskan pikirannya.

Kejadian ini menyebabkan aku lebih sibuk dari biasanya, namun hidupku jadi bergairah. Sekarang justru yang jadi soal bagiku adalah suamiku, kang Uci. Ia masih juga tetap suka sering keluar rumah, sekarang lebih sulit bagiku menahan suamiku, karena kesempatan bicara panjang dengannya jarang ada. Siang hari, begitu banyak orang di rumah. Malam hari, selewat sembahyang Isya ia menghilang, pulang kalau sudah larut malam.

Pada suatu ketika Kusno pergi menjemput istrinya, Utari, putri pak HOS Tjokroaminoto. Tentu saja, mereka kami tempatkan dalam satu kamar dengan Kusno. Namun pada suatu malam, Kusno bicara terus terang kepadaku, menjeaskan bahwa ia belum berhubungan sebagai suami istri dengan Utari.

Mengapa ia berani berterus terang begitu kepadaku ?. Mengapa kepadaku ?.

Hubungan kami tidak beda seperti adik dan kakak. Dan tidak lebih dari itu, kata Kusno. Ia juga memintaku agar Utari ditempatkan di kamar lain, yang terpisah dengan dirinya.

Aku diam mendengarkannya. Memang begitulah tampaknya, yang seorang ke kanan, yang seorang ke kiri. Yang seorang sibuk membaca, belajar dengan tekun, yang seorang main simbang dan lompat-lompatan di halaman. Terlalu berjauhan dunia mereka, pikirku. Tetapi kemudian aku mencoba memberi nasihat agar hubungan mereka diperbaiki.

Pada suatu hari, ditengah suasana yang tambah hari tambah gerah disebabkan keadaan politik, muncul pegawai pos membawa telegram yang ditujukan kepada Soekarno.

Pak Tjokro ditangkap, kata Kusno waktu selesai membaca kertas biru itu.

Ditangkap ?, Apa sebabnya ?

Tak Jelas, tentu soal politik.

Dalam keadaan seperti ini tentu bisa macam-macam dituduhkan kepadanya, kata kang Uci, suamiku.

Pasti beliau dikenakan tuduhan yang bukan-bukan, kata Kusno.

Tetapi apa ?, tanyaku keheranan.

Kalaupun tidak ada kesalahannya, pemerintah macam begini bisa saja menangkapnya, kata Kusno.

Kekuasaan pemerintah Hindia Belanda begitu kejam. Sedangkan suasana ditengah masyarakat tambah menggelisahkan. Pemogokan terjadi dimana-mana. Aksi-aksi kaum buruh perkebunan terjadi dimana-mana. Buruh-buruh kereta api sudah menunjukkan keinginannya yang sesungguhnya. Dan baru-baru ini soal pemogokan di Garut ditulis orang di koran-koran.

Aku pergi sebentar, kata Kusno, yang kemudian dengan tergesa mengenakan sepatu, lalu pergi.

Sekembalinya ia bercerita, bahwa ia telah mendengar banyak tentang kejadian penangkapan pak Tjokro itu.

Gila Belanda-Belanda itu. Katanya, Belanda menggedor rumah pak Tjokro di tengah malam buta dan menggiring pak Tjokro dengan ujung bayonet ke dalam tahanan. Dia tidak mendapat kesempatan untuk mengatur keluarga yang dicintainya. Dalam keadaan yang begitu susah lagi di rumahnya, katanya penuh kejengkelan.

Apa tuduhannya kata orang ?, tanya kang Uci.

Biasa, para pembesar seperti berkeyakinan benar, bahwa pemogokan di garut itu dipupuk oleh Sarekat Islam. Dan SI bagi mereka identik dengan pak Tjokro, Kusno menjelaskannya.

Kus, mesti ke sana secepatnya. Kasihan mereka yang di Surabaya.

Mengapa mesti kamu ?. Apakah yang di surabaya tidak cukup ?, tanya kang Uci.

Ini kewajiban saya, tegasnya, Dia mengulurkan tangannya pada waktu saya memerlukan rumah. Sekarang saya harus berbuat baik pula kepada mereka. Mengejar kehidupan mandiri, sementara orang yang sudah diakui keluarga berada dalam kesusahan, bukan cara kita.

Aku diam, membenarkan, memuji pikirannya. Namun aku punya beberapa pikiran lain, antaranya suatu harapan paling sedikitnya nanti ia akan kembali ke sekolah di dago itu. Sebab perasaanku menyebutkan, betapa pentingnya ia menjadi insinyur. Orang yang begitu pintar pantas jadi insinyur. Jangan hanya orang Bule saja yang jadi insinyur. Dan bukankah itu tujuan utama ia datang ke Bandung ?. Tujuan itu tidak boleh kandas !.

Rupanya Kusno mengerti maksudku. Tiada lain yang kuharapkan, selain bahwa ia dalam beberapa tahun ini belajar keras dan kelak menjadi insinyur, orang pintar yang bakal jadi kebanggaan banyak orang.

Kus sadar, betapa pentingnya sekolah, katanya.Tetapi saya sadar pula, betapa pentingnya menolong keluarga pak Tjokro, mertua saya. Saya adalah anaknya yang tertua. Saya harus berbakti kepada orang yang saya .

Benar, aku pun hormat kepadanya, aku pun memujanya. Suamiku pun tidak akan diam. Semua tidak akan diam.

Dia menambahkan, Penangkapan terhadap pak Tjokro tidak terduga-duga. Secara mendadak sekali. Dan mereka sekarang sedang berada dalam kesulitan uang. Aku mesti menolongnya.

Selesai pembicaraan kami dengan keputusan bahwa Kusno akan pergi ke Surabaya, ia pergi ke sekolahnya, memberitahukan maksudnya kepada guru-gurunya, termasuk profesor Klopper diantaranya.

Esok harinya, Kusno dengan membawa segala barangnya, pergi ke Surabaya. Buku-bukunya pun diangkutnya. Maklumlah, ia tidak tahu untuk berapa lama ia akan berada disana. Mungkin untuk sebentar, tetapi mungkin juga untuk selama-lamanya.

Kami mengantarkannya ke stasiun. Dan sebelum ia naik ke dalam kereta api, suamiku masih sempat menyampaikan kata-kata sesuai dengan isi hatiku, yakni menunjukkan harapan agar segalanya beres kembali di Surabaya, dan Kusno kembali melanjutkan sekolah di dago.

Waktu itu suamiku sempat menitipkan sehelai amplop berisi sumbangan untuk keluarga pak Tjokro. Dan menyisipkan beberapa buah uang logam untuk Kusno sendiri, bekal di jalan.

Setelah tujuh bulan dalam penjara, H.O.S. Tjokroaminoto dibebaskan kembali di bulan April 1922.

Dan, dibulan Juli, waktu mulai tahun pelajaran baru, Kusno kembali muncul di depan rumah kami, ia kembali didampingi Utari. Ia datang dengan semangat baru, dengan halaman cerita baru. Setelah ia beberapa bulan mengalami bekerja di stasiun kereta api di Surabaya.

Dan pada suatu saat Kusno meminta pendapatku bagaimana menyelesaikan persoalan mereka berdua. Kusno menceritakan isi hatinya kepadaku mengenai Utari.

Kikuk, bagiku, sangat kikuk. Aku pun mengalami kawin muda, sebelum dengan Sanusi. Aku bisa merasakan, bagaimana hubungan suami isteri yang tidak didasari rasa cinta. Serasa kosong.

Aku berusaha keras mengingatkannya, bahwa segala usaha harus ditempuh untuk melestarikan hubungan mereka. Terutama harus diingat, bahwa Utari adalah putri pak H.O.S. Tjokroaminoto.

Bersambung

2 Komentar

  1. sudah ada sambungannya kah?

  2. hm,,,,,
    bu inggit inspirasi saya…..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s