Soekarno dan Oei Hong Kian

oei hong kian

Menjelang masa senja kekuasaannya Bung Karno mengalami gangguan gigi, dan dari gangguan gigi inilah kisah hubungan pribadi drg. Oei Hong Kian mengalir

Sebagai dokter gigi yang bertugas di Departemen Kesehatan RI, drg. Oei Hong Kian beberapa kali memperoleh undangan ke Istana. Tapi tak pernah datang. Sampai suatu saat di awal tahun 1967, dr. Tan, dokter pribadi Presiden Soekarno, menyampaikan berita bahwa presiden sakit gigi. drg. Oei Hong Kian tahu bahwa rekan yang biasa merawat gigi beliau, drg. Ouw, pindah ke luar negeri. Drg Oei Hong Kian bersedia menerima permintaan dr. Tan. Selain itu drg. Oei Hong Kian juga ingin tahu keadaan Istana sekarang, setelah bulan Januari sebelumnya mahasiswa dan pelajar berdemonstrasi. Mereka membawa slogan “Soekarno 1945 yes, Soekarno 1967 no”, juga meminta agar Bung Karno diajukan ke pengadilan.

Dengan ditemani dr. Tan, drg. Oei Hong Kian berangkat ke Istana. Presiden sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang. Kami diperkenalkan kepada mereka, lalu bersama-sama menuju ke ruang khusus untuk pelayanan gigi di Istana Negara.

Alangkah terperanjatnya drg. Oei Hong Kian melihat peralatan di sana. Semua memang terawat dengan baik, tetapi sudah tidak layak lagi untuk praktik modern. Apalagi untuk merawat gigi seorang kepala negara.

“Bagaimana ruang praktik ini, Pak Dokter. Adequaat (memadai), bukan?” tanya Bung Karno (BK) dengan nada bangga. Merasa wajib berterus terang kepada Presiden RI, maka drg. Oei Hong Kian pun menjawab, “Maafkan, Pak. Alat-alat kuno ini sepantasnya sudah masuk museum.”

Saya lihat orang di sekitar terkejut dan melirik BK. drg. Oei Hong Kian jadi waswas. Apakah keterusterangan yang dia katakan akan menyebabkan presiden marah?

Bung Karno tercengang sejenak. Kemudian drg. Oei Hong Kian melihat mata BK seperti tersenyum dan seluruh wajahnya ceria. “Pak Dokter ini memang lain daripada yang lain,” kata BK sambil memandang Pak Hardjo, kepala rumah tangga Istana. “Bagaimana Pak Hardjo? Kata Pak Dokter Oei, alat-alat ini seharusnya sudah disimpan di museum. Dari mana alat-alat ini?”

“Dari dump NICA, peninggalan Belanda, Pak,” jawab Pak Hardjo.

drg. Oei Hong Kian tidak berani menggunakan alat-alat itu sebab sudah tak memiliki keterampilan untuk mengoperasikannya. Kalau memaksakan diri, ada kemungkinan melukai lidah, gusi, atau pipi BK. Bor yang tersedia pun tidak dilengkapi semprotan air, padahal kalau panas ia bisa merangsang syaraf gigi. “Bapak akan menderita,” kata Oei Hong Kian. “Sebaiknya Bapak datang saja ke tempat praktik saya.”

Karena alasan keamanan, pengobatan di rumah drg. Oei Hong Kian dianggap tidak mungkin. Akhirnya diambil keputusan yang sebetulnya tidak ideal. Perawatan tetap dilakukan di Istana, tetapi menggunakan alat-alat milik drg. Oei Hong Kian. Truk akan mengangkut peralatan itu, dan setiap kali dibongkar-pasang di dua tempat berbeda.

Dengan peralatan sendiri drg. Oei Hong Kian bisa leluasa bekerja. Seusai perawatan pertama BK berkomentar, “Memang dokter gigi ini hebat. Saya tidak merasa sakit sedikit pun.”

“Yang hebat ‘kan alat-alat canggih ini, Pak.” Alat-alat itu khusus saya datangkan dari Jepang tahun 1960 demikian drg. Oei Hong Kian menjawab pujian BK terhadap dirinya. Keduanya kemudian asyik berbincang-bincang tentang berbagai hal.

Ketika melihat Menteri Sosial Muljadi Djojomartono lewat di halaman Istana, BK memanggil. “Pak Mul, Pak Mul, mari berkenalan dengan dokter gigi saya yang baru.”

Tapi Pak Mul menjawab, “Saya sudah mengenal drg. Oei sedikitnya sepuluh tahun.”

Menteri P & K Prof. Dr. Prijono juga dipanggil untuk diperkenalkan. Tapi Prof. Prijono menjawab, bahwa dia sudah lama menjadi pasien drg. Oei Hong Kian. Dengan nada agak menyesal BK berkata, “Bagaimana sih Bapak-bapak menteri ini? Mengapa tidak sejak dahulu memberitahu saya?”

Rupanya gigi BK perlu mengalani restorasi intensif. Untuk itulah drg. Oei Hong Kian harus berkali-kali datang ke Istana.

Karena saat itu secara politik sudah disingkirkan, pria yang overaktif itu tidak banyak pekerjaan. Ia sulit membiasakan diri dengan kesepiannya. Maka setiap kali selesai perawatan, Oei Hong Kian pun tetap harus tinggal untuk sekedar menemani BK melepas kesepiannya.

Pada kesempatan lain BK mengajak Oei Hong Kian makan masakan pesanannya, bubur Manado dengan ikan asin. Kemudian mereka minum sari jambu biji. Tak lama kemudian seorang pembantu membawa piring berisi pisang goreng panas dan secangkir teh. Melihat hal tersebut maka Oei Hong Kian berkesimpulan, Presiden RI itu sangat sederhana dalam memilih makanan. Makanan kesukaannya ialah pecel dan sayur lodeh

Dikesempatan lain, BK dan Oei Hong Kian duduk-duduk di kursi rotan di serambi belakang sambil minum teh. Muncul dua orang Jepang diantar seorang wanita Jepang. Nyonya itu kebetulan pasien Oei Hong Kian. Suaminya seorang pengusaha Indonesia. Rupanya ia bertindak sebagai penerjemah. Sebagai orang yang mengerti etika drg. Oei Hong Kian buru-buru minta diri, tetapi BK menarik lengan Oei Hong Kian.

“Duduk dulu,” katanya. “Tidak ada rahasia.”

“Kami membawa sekadar oleh-oleh untuk Bapak,” kata si juru bicara. Oleh-oleh itu berupa miniatur kapal, mirip kerajinan perak dari Kendari.

“Oleh-oleh ini untuk Presiden RI atau Ir. Soekarno pribadi?” BK bertanya. Pada saat itu resminya BK memang masih presiden, walaupun boleh dikata sudah tidak berkuasa lagi. Namun tampaknya BK riang gembira saja,.

Makin hari suasana di Istana makin lengang. Hanya sedikit tamu yang datang. Di antaranya pengusaha Dasaad dan bekas menteri Leimena. Mereka tidak takut akan segala risiko selalu mendampingi BK. Bahkan keduanya mampu mengembangkan cerita masa lalu menjadi tawa dan canda. Apabila mereka bercerita, mungkin Oei Hong Kian berfungsi sebagai penangkal petir untuk menjaga agar pembicaraan tidak menjadi sentimental.

Suatu persahabatan yang indah antara drg. Oei Hong Kian dan BK, keindahan tersebut tercipta dikarenakan persahabatan itu terjalin disaat masa senja kejayaan BK.

Salam Revolusi

1 Komentar

  1. This is a great tip particularly to those new to the blogosphere.
    Brief but very precise information… Appreciate your sharing this
    one. A must read post!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s