Presiden Yang Sensitif

soekarno 219

Melihat gambar di atas maka yang ada dalam fikiran kita adalah sosok Bung Karno yang begitu keras dan ganasnya dalam mempertahankan ide-idenya bahkan dalam kancah Politik International. Tapi benarkah Bung Karno demikian kerasnya ? Mungkin tulisan di bawah ini dapat sedikit memberikan gambaran tentang bagaimana nurani Bung Karno yang sebenarnya.

BK sering berziarah, nyekar ke makam ayahnya di Pemakaman Karet, Jakarta. Kadang-kadang di malan hari, tetapi sering pada siang hari, dan melihat gelandangan mengemis. Suatu hari di istana, sekembalinya dari nyekar, BK memanggil Mangil dan berkata, “Coba, Mangil, engkau tanya sama orang sedang menggendong anak kecil sambil menyusui itu, sebetulnya mereka itu punya rumah apa tidak, baik di Jakarta maupun di daerah. Dan kalau memang tidak punya rumah, apakah mereka itu sanggup dipindahkan ke tempat lain. Agar kalau Bapak jalan lewat di tempat itu, orang perempuan yang menggendong anak kecil sudah tidak ada di sana. Saya merasa kasihan sekali kepada perempuan yang menggendong anak kecil itu. Entah bagaimana caranya, ini Bapak ada uang sedikit, kasihkan kepada mereka.”

Selain benci penjajahan dan penindasan, Bung Karno juga tidak senang melihat burung dalam sangkar. Pada suatu hari, BK mengadakan inspeksi mendadak ke asrama DKP, yang letaknya berjejer dengan Istana Merdeka. BK segera memanggil pemilik burung serta memerintahkan melepaskannya.

Kata Bung Karno, “Kasihan burung itu, biarkan dia mencari makan di alam bebas. Kamu orang belum pernah mengalami bagaimana susahnya orang ditahan, dipenjarakan tanpa ada kesalahan. Maka, jangan ada pengawal saya memenjarakan burung dalam sangkar, sekalipun sangkarnya dari emas.”

Suatu ketika BK sedang menonton film di istana, ada adegan kijang kesakitan, ditembak seorang pemburu sementara kijang itu masih mempunyai anak yang harus disusui. Beberapa penonton, baik pelayan maupun pengawal, ketawa cekikikan, karena menurut pemandangan mereka adegan tersebut sangat lucu. Bung Karno langsung berteriak, “Diam, kamu orang itu tidak tahu rasa kasihan.” Penonton langsung cep klakep, tidak ada yang berani berkutik.

Di sekitar Kandangan, Jawa Timur, tempat BK diungsikan ketika Yogyakarta diserang Belanda, 21 Juli 1947, masih banyak kijang liar. Suatu hari, seorang pengawal berhasil menembak mati seekor kijang. Lalu dagingnya dimasak dan dibagi-bagikan kepada semua teman pengawal. Daging terbaiknya disisakan untuk dibuat dendeng. Setelah siap, dendeng itu diserahkan kepada koki yang memasak makanan untuk BK.

Bung Karno tahu, dendeng itu hasil berburu. Akibatnya, para pengawal, dikumpulkan oleh BK. Lalu, ia berkata, “Kamu orang ini betul-betul tidak mempunyai rasa kasihan kepada sesama hidup. Apa salahnya kijang itu kamu tembak? Bagaimana kalau kijang yang kamu tembak itu masih mempunyai anak kecil yang masih memerlukan pertolongan induknya? Apakah kamu orang di sini kekurangan makan?” Semua pengawal diam dan mulai saat itu tidak ada lagi anggota pengawal yang berburu.

Bung Karno yang gagah dan lantang membangkitkan semangat rakyat (pemuda) untuk mengusir Belanda dengan semboyan: “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”, ternyata juga pernah menangis.

Tanggal 18 Juli 1955, BK naik haji ke Tanah Suci Mekkah. Ia bersama beberapa rombongan sempat mengheningkan cipta, dan berdoa di samping makam Nabi Muhammad di Madinah. Saat itu BK menangis seperti anak kecil.


Salam Revolusi

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s