Harun Al-Rasyid Indonesia

Gemblengan kehidupan dalam penjara membuat Bung Karno tidak dapat hidup sendirian. Selama mata belum terpejam harus ada orang disampingnya. Untuk mendengarkan ide serta gagasannya kedepan.

Kehidupan dan kesejahteraan rakyat selalu menjadi titik tumpu pemikiran Bung Karno, sehingga tak jarang diluar acara resmi Kepresidenan Bung Karno mengajak beberapa para pengawalnya untuk berkeliling menyaksikan kehidupan rakyat yang sebenarnya.

Jika kemudian Bung Karno merasa begitu dekat dengan rakyat, itu karena ia merasa lahir dari rahim rakyat jelata. Sepanjang perjuangan pergerakan kemerdekaan, ia selalu dikelilingi rakyat, didukung rakyat, diikuti rakyat ke mana pun telunjuknya mengarah.

Karenanya, sekalipun ia telah menyandang predikat Presiden, kebiasaan untuk berada di tengah-tengah rakyat jelata tak pernah bisa sirna. Bahkan dalam “curhat”-nya kepada penulis biografinya, Cindy Adams, ia mengatakan, sering merasa lemas, napas seakan berhenti apabila tidak bisa keluar Istana dan bersatu dengan rakyat-jelata yang melahirkannya.

Karena itu pula, ia tak jarang keluar Istana seorang diri, ada kalanya dikawal seorang ajudan berpakaian preman. Bagaimana ia menyamar? Menurut Bung Karno, tidak terlalu sulit. Sebab, rakyat kebanyakan sangat lekat dengan penampilan Bung Karno khas dengan baju seragam dan pici hitam. Maka, ketika Bung Karno berganti pakaian, memakai sandal, pantalon, atau hanya berkemeja, lalu mengenakan kacamata berbingkai tanduk, rupa Bung Karno sudah beda sama sekali.

Dengan cara itu, Bung Karno bisa leluasa masuk-keluar pasar tanpa dikenali orang. Ia merasa kepunyaan rakyat, karenanya menjadi lebih nyaman bila berada di tengah rakyat. Perasaan Bung Karno langsung tenteram jika mendengar percakapan riuh orang-orang. Bung Karno menyimak rakyat bergunjing, rakyat bergosip, rakyat berdebat, rakyat berkelakar, rakyat bercumbu-kasih. Pada saat itulah Bung Karno merasakan sebuah kekuatan merasuk, mengaliri seluruh pembuluh darah.

Dari satu tempat ke tempat lain, sesekali bahkan Bung Karno berhenti di pinggir jalan, memesan sate ayam yang disajikan menggunakan pincuk dan pisang, dan memakannya sambil duduk di trotoar. Saat-saat seperti itulah Bung Karno merasakan kesenangan luar biasa.

Akan tetapi, ada kalanya, penyamaran ala Harun Al-Rasyid berantakan kalau Bung Karno kelupaan. Lupa untuk tidak berbicara. Lupa untuk tidak mengeluarkan suara. Seperti yang terjadi di kawasan Senen, Jakarta Pusat, di dekat lokasi pembangunan gudang stasiun. Waktu itu, spontan saja ia bertanya kepada tukang bangunan, “Dari mana diambil batubata dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?” Maklumlah, Sukarno adalah seorang “tukang insinyur” sipil.

Apa yang terjadi setelah Bung Karno bersuara? Belum sempat tukang bangunan menjawab pertanyaan Bung Karno, terdengar seorang perempuan berteriak kencang sekali, “Itu suara Bapak… Ya… suara Bapak!!!… Hee… orang-orang, ini Bapak…. Bapak….!!!!”

Dalam sekejap ratusan, kemudian ribuan orang menyemut mengerubungi Bung Karno. Mereka berebut mendesak, menyalami, memegang…. suasana pun menjadi gaduh. Ajudan segera mengamankan Bung Karno, menyibak kerubungan massa, memasukkannya ke dalam mobil, dan menghilang.

Salam Revolusi

4 Komentar

  1. baru tahu aku kalo orang yg sangat saya bangakan ini sering blusukan dan melihat lasung mendengar lasung rakyat yg sangat di cintai ini, seadainya sekarang ada pemimpin2 negeri ini seperti beliau pasti makmur, tidak hanya tebar pesona dg suara lembut, dgan wajah sok serius.

  2. subhanallah…ini br presiden yg sngat memperhatikan rakyat langsung….krm Alfatihah bt presiden soekarno

  3. BETUL2 PIMPINAN ALA UMAR BIN KHOTOB…”BLUSUKAN” ….NYAMAR

  4. Bukan kayak jokowow yang blusukan tapi PAMER….hahaha


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s