Bercak Darah Di Kaki Soekarno 1

Bercak Darah Di Kaki Soekarno 1

“Yang tidak banyak diketahui orang”, ungkap Soebandrio, “dari sekian perwira senior yang paling ditakuti Presiden Soekarno saat itu adalah Nasution”. “29 September 1965: Aidit yang berbicara kemudian, seakan mengolok-olok Leimena dan sekaligus dianggap ‘menantang’ Soekarno, mengatakan bahwa kalau CGMI tidak bisa melenyapkan HMI, sebaiknya mereka memakai sarung saja”.

BEBERAPA waktu sebelum tanggal 30 September 1965, Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya (U) Omar Dhani bertemu bertiga dengan Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani dan Panglima Kepolisian Jenderal Soetjipto Danoekoesoemo. “Saya sudah ngomong, ada sesuatu yang akan terjadi”, khususnya dalam kaitan dengan Angkatan Darat, jadi hendaknya berhati-hati. Yani tampaknya tetap tenang saja. Omar Dhani menggambarkan bahwa hubungannya dengan Yani baik sekali hingga saat itu. Suatu ketika, sewaktu berbincang-bincang dengan Panglima Angkatan Laut Laksamana (L) Martadinata dan Panglima Angkatan Kepolisian Jenderal Soetjipto, pada suatu kesempatan lain, tanpa kehadiran Yani, mengenai the incoming leader after Soekarno, dengan serta merta Omar Dhani menyebutkan nama Ahmad Yani. “Kami semua sepakat, dialah yang paling pantas”. Tapi, sekitar waktu itu Omar Dhani sendiri pernah juga disebut-sebut namanya untuk posisi Presiden, antara lain oleh pimpinan PKI. “Saya tidak pernah memikirkan. Tidak pernah mencalonkan diri”. Meskipun sempat membicarakan the next, secara umum para Panglima tersebut sampai saat itu menurut Omar Dhani, tidaklah pernah memikirkan penggantian Presiden.

Soal siapa yang bisa  dan pantas menggantikan Soekarno kelak, sebenarnya tak hanya nama Yani –atau Omar Dhani– yang muncul kala itu. Soebandrio yang secara formal adalah orang kedua setelah Soekarno dalam kekuasaan hingga tahun 1965, justru menggambarkan adanya dua tokoh yang memiliki peluang seimbang, yakni Jenderal Abdul Harris Nasution dan Letnan Jenderal Ahmad Yani. Spekulasi yang berkembang, “jika Bung Karno meninggal atau sudah tidak lagi mampu memimpin Indonesia, maka pengganti yang paling cocok adalah antara Yani dan Nasution”. Sebenarnya, pada sisi lain Soebandrio sendiri pun kerap disebutkan termasuk yang memiliki peluang untuk itu. “Yang tidak banyak diketahui orang”, ungkap Soebandrio, “dari sekian perwira senior yang paling ditakuti Presiden Soekarno saat itu adalah Nasution”. Sampai-sampai Presiden Soekarno menjuluki Nasution sebagai pencetus gagasan ‘Negara dalam Negara’. Selain sangat berpengalaman di bidang militer, Nasution juga matang berpolitik. “Dia pencetus ide Dwi Fungsi ABRI melalui jalan tengah tentara. Ia berpengalaman melakukan manuver-manuver politik yang dikoordinasi dengan menggunakan kekuatan militer, agar tentara bisa masuk ke lembaga-lembaga negara secara efektif di pusat dan daerah”.

Pertemuan langsung antara Soekarno dengan Nasution yang terakhir adalah pertengahan September 1965, tatkala Presiden menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada Dipa Nusantara Aidit di Istana Negara. Tak ada hal yang istimewa dalam pertemuan sepintas dalam keramaian suasana upacara kala itu, di antara keduanya, kendati saat itu dalam benak Soekarno nama Nasution pasti terekam dengan konotasi tertentu, karena nama Nasution tercatat dalam laporan sebagai salah satu anggota Dewan Jenderal. Soekarno bahkan meletakkan Nasution sebagai otak di belakang segala sesuatu yang terkait dengan Dewan Jenderal, meskipun setiap kali memerlukan penjelasan, Soekarno selalu memintanya kepada Yani. Peristiwa agak istimewa, justru terjadi antara Aidit dengan Nasution. Setelah selesai upacara, menurut memori Nasution, Aidit datang kepadanya dan menanyakan “Manakah dari pita-pita di dada Jenderal Nasution yang mengenai operasi Peristiwa Madiun 1948?”. Nasution menunjukkan pita itu dan Aidit segera menggandeng tangan Jenderal Nasution seraya meminta para wartawan mengambil gambar mereka berdua.

Soekarno, Aidit dan Jenderal Nasution.

Hanya beberapa hari sebelumnya, 13 September 1965, juga di istana, Presiden Soekarno menyerang Jenderal Nasution –meskipun tanpa menyebut nama. Dalam pembukaan pertemuan Gubernur se-Indonesia, Soekarno kembali mengulangi tentang adanya anak-anak revolusi yang tidak setia pada induknya, yakni sebarisan ‘jenderal brengsek’, yang semua orang tahu terutama ditujukan kepada Nasution. Ini bukan pertama kali dilontarkan Soekarno, terutama sejak ia menerima informasi-informasi tentang adanya Dewan Jenderal yang bermaksud menggulingkan dirinya. Pada waktu yang bersamaan para pemimpin PKI melontarkan pernyataan-pernyataan senada, sehingga tercipta opini bahwa Soekarno memang betul-betul telah seiring sejalan dengan PKI, sesuatu yang kelak harus ditebus Soekarno dengan mahal.

Praktis sepanjang September 1965, PKI menyerang secara agresif, lawan-lawan politiknya, terutama kelompok-kelompok tentara yang dikaitkan dengan Nasution. Seraya menggambarkan adanya kelompok jenderal yang tidak loyal kepada Soekarno, Harian Rakyat 4 September menulis bahwa para perwira tentara itu dalam pola maling teriak maling menuduh seakan-akan PKI mau melakukan kup. Tetapi sementara itu, pada tanggal 9 September adalah Aidit sendiri yang menggambarkan akan terjadinya sesuatu dengan mengatakan “Kita berjuang untuk sesuatu yang pasti akan lahir. Kita kaum revolusioner adalah bagaikan bidan daripada bayi masyarakat baru itu. Sang bayi pasti lahir dan kita kaum revolusioner menjaga supaya lahirnya baik dan sang bayi cepat jadi besar”. Ucapan ini diperkuat Anwar Sanusi. Lima hari kemudian, 14 September, Aidit di depan sidang nasional Sobsi mengatakan bahwa “yang paling penting sekarang ini, bagaimana kita memotong penyakit kanker dalam masyarakat kita, yaitu setan kota. Kalau revolusi mau tumbuh dengan subur, kita harus menyingkirkan kaum dinasti ekonomi, kapbir dan setan kota dari segenap aparatur politik dan ekonomi negara”. Di depan karyawan BNI, 17 September, Aidit mengatakan “Kabinet sekarang belum Nasakom, hanya mambu Nasakom”. Lalu 21 September di depan Sarbupri, Aidit menyatakan “Jangan berjuang untuk satu ikan asin…. Jangan mau jadi landasan, jadilah palu godam”. Seraya menggambarkan bahwa para menteri hidup dari distribusi kewibawaan dari Bung Karno, ia sebaliknya melukiskan “kaum proletar tidak akan kehilangan sesuatu apa pun kecuali belenggu mereka”.

Paling agresif adalah ucapan-ucapan Aidit di depan Kongres III CGMI 29 September 1965, “Mahasiswa komunis harus berani berpikir dan berani berbuat. Berbuat, berbuat, berbuat. Bertindak dan berbuat dengan berani, berani. Sekali lagi berani”. Pada acara itu Aidit melancarkan serangan khusus kepada HMI yang beberapa waktu sebelumnya sempat dibela oleh Ahmad Yani. Bahkan sebenarnya Aidit malam itu seakan ‘melawan’ Soekarno ketika ia menanggapi pidato Waperdam II Leimena. Sang Waperdam yang berbicara sebelum Aidit, malam itu mengatakan bahwa sesuai sikap Presiden Soekarno, hendaknya HMI tak perlu lagi dipersoalkan lebih lanjut. Menurut Leimena, bukankah beberapa hari sebelumnya, 22 September, Presiden telah menyatakan penolakannya terhadap tuntutan pembubaran HMI yang disampaikan kepadanya ? Namun Aidit yang berbicara kemudian, seakan mengolok-olok Leimena dan sekaligus dianggap ‘menantang’ Soekarno, mengatakan bahwa kalau CGMI tidak bisa melenyapkan HMI, sebaiknya mereka memakai sarung saja. Soekarno yang sebenarnya merasa tersinggung, tetap mengendalikan diri dengan baik. Ia mengatakan HMI tak perlu dibubarkan. Namun, bilamana HMI “ternyata menyeleweng” dari garis revolusi, ia sendiri akan melarang dan membubarkan HMI.

Yang kemudian ikut memberatkan PKI di belakang hari adalah editorial Harian Rakyat pada tanggal 30 September, yang berbunyi, “Dengan menggaruk kekayaan negara, setan-setan kota ini mempunyai maksud-maksud politik yang jahat terhadap pemerintah dan revolusi. Mereka harus dijatuhi hukuman mati di muka umum. Soalnya tinggal pelaksanaan. Tuntutan adil rakyat pasti berhasil”. Editorial ini seakan membayangkan suatu pengetahuan tentang rencana PKI berkaitan dengan kematian para jenderal melalui suatu hukuman mati oleh rakyat atau kekuatan revolusioner. Akumulasi pernyataan-pernyataan keras tokoh-tokoh PKI, terutama Aidit, serta apa yang hitam putih termuat dalam Harian Rakyat, di belakang hari ibarat mozaik yang setelah disusun menjadi sebuah gambar, telah mendorong munculnya opini kuat tentang keterlibatan dan peran PKI sebagai otak gerakan makar tanggal 30 September 1965.

Jenderal Nasution yang pada bulan September itu banyak menjadi bulan-bulanan serangan kelompok politik kiri maupun Soekarno, lebih banyak berdiam diri, dalam arti tak banyak mengeluarkan pernyataan-pernyataan menanggapi serangan-serangan yang ditujukan pada dirinya. Bahkan serangan tentang keterlibatan isterinya dalam suatu kolusi bisnis yang memanfaatkan kekuasaan suami, juga didiamkan Nasution.

Dalam suatu rapat raksasa 29 September –suatu model pengerahan massa pada masa itu– di lapangan Banteng yang dihadiri lebih dari seratus ribu orang, sebagian besar terdiri dari pelajar yang dikerahkan IPPI pimpinan Robby Sumolang, ada aksi tunjuk hidung terhadap kapbir, setan-setan kota dan kaum koruptor. Empat nama setan kota yang ditunjuk hidungnya adalah Hein Siwu, Pontoan, Kapten Iskandar dan seorang insinyur pemilik pabrik tekstil bernama Aminuddin, yang nama-namanya sudah dilaporkan kepada Jaksa Agung Brigjen Sutardhio. Menurut Nasution, nama yang disebut terakhir, Ir Aminudin, bersama Hein Siwu, dikait-kaitkan dengan isterinya dalam urusan bisnis. Nasution memang pernah memenuhi undangan Aminuddin untuk meninjau pabrik tekstil milik Aminuddin yang terletak di daerah Cawang. Pabrik itu, “didesas-desuskan sebagai milik saya, yang diurus oleh Ir Aminuddin”. Kejadian sebenarnya dari hubungan itu, menurut Nasution adalah bahwa Hein Siwu dengan diantar oleh Kolonel Hein Victor Worang pernah datang untuk menyumbang kegiatan sosial Nyonya Sunarti Nasution.

Salam: Soekarno

15 Komentar

  1. […] Bercak Darah Di Kaki Soekarno 1 « PENA SOEKARNO […]

  2. mau nanya sya pengagum soekarno tpi sya agak tergnggu dgn link ini http://www.valkyriedwin.blogspot.com/2009/03/sisi-gelap-bung-karno.html bagaimana kmentarnya ? bisakah diluruskn ?

  3. http://www.valkyriedwin.blogspot.com/2009/03/sisi-gelap-bung-karno.html bagaimana komentar tntg link itu ? bisakah d lruskan ? soalnya sya msh bngung

  4. Selamat malam Anggi.

    Satu hal yang perlu menjadi dasar pemikiran kita adalah disamping para pemuja Soekarno ada juga segolongan yang merasa terganggu oleh kharisma Bung Karno yg begitu tinggi, maka dibuatlah buku yang sepintas nampak ilmiah tapi pada hakekatnya hanya penyebar fitnah. Kalau anda pernah ingat buku “Siapa menabur angin akan menuai badai.”
    Isi buku tersebut secara jelas mendiskreditkan Bung Karno khususnya yang berkaitan dengan peristiwa G30S PKI.

    Salam: Soekarno

  5. Link di atas sudah saya baca. Kesimpulannya: artikel yang sama sekali tidak ilmiah, dan merupakan propaganda anti-Pancasila. Untuk menyerang Pancasila perlu diserang penggagasnya… Soekarno.

    Kita lihat kengawuran tulisan tersebut versus fakta-fakta sejarah::

    Pernyataan “Kolonial Belanda baru keluar dari negeri ini setelah serbuan Jerman dan Jepang pada tahun 1942”. Fakta: Jerman tidak ada urusan dengan Indonesia, saat itu Jerman hanya berperang di Eropa. Kalau maksudnya Jerman menyerbu Belanda, itu dilakukan tahun 1940.

    Pernyataan “Penjajah Belanda dan Jepang memaksa Soekarno untuk menjadi juru bicaranya”. Fakta: Soekarno justru ditangkap Belanda, dimasukkan ke penjara, dan diasingkan/dibuang karena omongannya membuat gerah pemerintah kolonial.

    Pernyataan “… Soekarno sejak ia memegang kekuasaan di Indonesia sebagai presiden pada 23 Agustus 1945.” Fakta:: Soekarno dipilih secara aklamasi pada 18 Agustus ’45 oleh PPKI, dikukuhkan tanggal 29 Agustus oleh KNIP. Tgl 23 itu tanggal apa? Untuk fakta sejarah yang sangat sederhana seperti tanggal saja ditulis ngawur…

    Pernyataan: ” Partai Komunis adalah kepanjangan tangan dari gerakan zionisme internasional” sama seperti mengatakan “Bensin memadamkan api”
    Gerakan zionis mendasarkan kekuatannya pada modal (kapitalisme). Terus terang saya setuju dengan pendapat bahwa AS yang dianggap sebagai dewanya kapitalisme sebenarnya dikuasai oleh kelompok yahudi melalui penguasan modal dalam bidang-bidang paling strategis (pengeboran dan logistik minyak, perbankan, industri senjata, dll.) Kita semua tahu bahwa komunisme justru adalah pergerakan anti-kapitalisme.

    Pernyataan “Soekarno melicinkan jalan bagi kolega-kolega Cina Komunis untuk menguasai perekonomian negeri ini “. Faktanya justru Bung Karno yang membuat kebijakan memproteksi desa (80% perekonomian Indonesia) dengan hanya mengijinkan pengusaha Tionghoa berusaha di daerah perkotaan.

    Pernyataan “Allah masih berkehendak untuk menyelamatkan Negeri ini dengan munculnya perlawanan yang dipimpin oleh Nasution, seorang Jenderal beragama Islam dan Soeharto sebagai koleganya”. Nah, dari statement ini bisa kita lihat siapa dan apa maksud dari penulis blog tersebut. Jelas Soeharto adalah alat kaum zionis lewat Amerika Serikat untuk mengubah sistem ekonomi Indonesia menjadi kapitalis (undang-undang pertama yang dibuat Soeharto adalah UU Penanaman Modal / 1967 yang merupakan pelanggaran total terhadap Pasal 33 UUD 1945). Dan fakta bahwa peristiwa “pembersihan PKI” adalah holocaust terbesar dengan korban jutaan jiwa pasti tidak diridhoi oleh Allah SWT dan bertentangan secara sangat prinsipil dengan ajaran Islam.

    Pernyataan: “Karena sesungguhnya Soekarno adalah seorang keturunan Yahudi suku Dunamah.” Ini statement ngawur hasil copy-paste yang disebut ditulis oleh “Dr. Abdullah Tal, seorang sejarawan Arab”. Faktanya Abdullar Tal bukanlah seorang sejarawan apalagi Doktor, namun seorang tentara dengan pangkat Letnan Kolonel saat perang 6 hari tahun 1967. Kitab “Al Af’al Yahudiyah fii Ma’aqilil Islami” yang dikatakan diterbitkan di Beirut pada kenyataannya hanyalah kitab fiktif yang ditulis beberapa blog Indonesia dan Malaysia (silakan search di Google, cari link mengenai kitab ini di negara lain atau di Lebanon. Nihil).

    PANCASILA ABADI !

  6. setuju dengan bung ff

  7. phon semakin menjulang semakin kencang anggin meniupnya akan tpi, “pohon” yg satu ini akarnya pun menghujam jauh hinga ke sanubari bangsa ini.

  8. dari mana asalnya kalau komunis itu zionis internasional??tolong dikoreksi bung komentar anda..

  9. Tenang, Bung Karno akan diluruskan dan dibersihkan oleh sejarah yang beliau tanam…

    Jadi,
    Pejah Gesang nderek Bung Karno

    The Founding Father, Leader and Briliant President of NKRI …

  10. kalau ini berbentuk buku, pasti bakal menarik dan pasti saya beli!

  11. Coba Introveksi dulu…. tahun berapa kah kita lahir ? apakah kita pelaku sejarah

  12. […] Editorial ini seakan membayangkan suatu pengetahuan tentang rencana PKI berkaitan dengan kematian para jenderal melalui suatu hukuman mati oleh rakyat atau kekuatan revolusioner. Akumulasi pernyataan-pernyataan keras tokoh-tokoh PKI, terutama Aidit, serta apa yang hitam putih termuat dalam Harian Rakyat, di belakang hari ibarat mozaik yang setelah disusun menjadi sebuah gambar, telah mendorong munculnya opini kuat tentang keterlibatan dan peran PKI sebagai otak gerakan makar tanggal 30 September 1965. Url: https://penasoekarno.wordpress.com/2010/09/13/bercak-darah-di-kaki-soekarno-1/ […]

  13. @atas gw hallloooo pak KIVLAN ZEIN apa kabar??? gmn dengan 15 juta petani yag jadi anggota PKI???😛


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s