Bercak Darah Di Kaki Soekarno 3

Bercak Darah Di Kaki Soekarno 3

“Ada kesan, perintah menindak yang berulang-ulang disampaikan Soekarno di tahun 1965 itu memang tidak ditindaklanjuti, atau bahkan mungkin memang tidak untuk betul-betul dilaksanakan. Jadinya, perintah untuk bertindak kepada tiga Brigadir Jenderal itu berfungsi seakan-akan sekedar bluffing, yang diharapkan sampai ke telinga para jenderal lain”. “Namun sementara itu, perintah serupa yang disampaikan Soekarno kepada Letnan Kolonel Untung Sjamsuri, 4 Agustus 1965, yang diketahui oleh sedikit orang saja, justru menggelinding”.

KETIKA Brigjen Soedirgo menghadap lagi 26 September 1965, kembali Soekarno mengatakan telah memerintahkan Brigjen Sabur dan Brigjen Sunarjo untuk mengambil tindakan dan memerintahkan Soedirgo membantu. ”Saya percaya kepada Corps Polisi Militer”, ujar Soekarno. Terlihat betapa selama berminggu-minggu, persoalan berputar-putar pada lapor melapor tentang adanya jenderal-jenderal yang tidak loyal dan setiap kali Presiden Soekarno pun mengeluarkan perintah penindakan.

Namun, rencana penindakan itu seakan jalan di tempat. Barulah pada tanggal 29 September, tampaknya ada sesuatu yang dapat dianggap lebih konkret, dengan munculnya Brigjen Mustafa Sjarif Soepardjo melaporkan kepada Soekarno kesiapan ‘pasukan’ yang dikoordinasi Pangkopur II dari Kalimantan ini untuk segera bertindak terhadap para jenderal yang tidak loyal tersebut.

Menurut kesaksian Kolonel KKO Bambang Setijono Widjanarko, dalam pertemuan pukul 11 pagi itu, selain Brigjen Soepardjo hadir pula Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani, yang menyatakan kesediaannya membantu. Akan tetapi, kesaksian ini dibantah Omar Dhani, karena sewaktu ia menghadap Soekarno, ia tidak melihat kehadiran Soepardjo di istana. Artinya, mereka menghadap pada jam yang berbeda. Omar Dhani sepanjang yang diakuinya, datang melaporkan kepada Presiden Soekarno tentang kedatangan sejumlah besar pasukan dari daerah –Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat– ke Jakarta dengan alasan untuk kepentingan Hari Ulang Tahun Angkatan Bersenjata 5 Oktober, yang dianggapnya aneh karena diperlengkapi peralatan tempur garis pertama. Selain itu, ia justru telah menugaskan Letnan Kolonel Heru Atmodjo yang menghadap di kediamannya pada pukul 16.00 Kamis 30 September 1965 untuk menemui Brigjen Soepardjo dan meminta keterangan rencana dan tujuan sebenarnya dari gerakan yang akan dilakukan Soepardjo di ibukota negara seperti yang dilaporkan oleh Asisten Direktur Intelijen AU itu.

Akhirnya, darah mengalir. Perintah-perintah penyelidikan dan penindakan yang diberikan Presiden Soekarno kepada beberapa jenderal yang dianggapnya setia kepadanya, seperti yang terlihat dari rangkaian fakta, pada mulanya memang seperti berputar-putar saja tanpa hasil konkrit. Pulang-pergi, jenderal-jenderal seperti Brigjen Sjafiuddin, Mayjen Mursjid, lalu Brigjen Sabur, Brigjen Soenarjo hingga Brigjen Soedirgo, hanyalah melakukan serangkaian panjang ‘akrobat’ lapor melapor yang intinya hanyalah konfirmasi bahwa memang benar ada sejumlah jenderal yang tidak loyal yang merencanakan semacam tindakan makar terhadap Soekarno. Ketika Soekarno menanyakan kesediaan mereka untuk menghadapi para jenderal tidak loyal itu, mereka selalu menyatakan kesediaannya. Begitu pula sewaktu Soekarno memberikan penugasan, mereka selalu menyatakan kesiapan, namun persiapannya sendiri tampaknya jalan di tempat. Brigjen Sabur misalnya menyatakan, persiapannya perlu waktu dan harus dilakukan dengan teliti.

Brigjen Soedirgo yang dalam kedudukannya selaku Komandan Corps Polisi Militer kelihatannya diharapkan menjadi ujung tombak pelaksanaan –yang juga belum jelas bagaimana cara dan bentuknya– sama sekali belum menunjukkan kesiapan. Apakah penindakan itu nantinya berupa penangkapan oleh Polisi Militer, lalu diperhadapkan kepada Soekarno? Semuanya belum jelas. Akan tetapi dalam pada itu, melalui Brigjen Sabur, dana dan fasilitas berupa kendaraan baru dan sebagainya, telah mengalir kepada Brigjen Soedirgo. Hanya urusan uang dan fasilitas itu yang merupakan kegiatan yang jelas saat itu.

Karir Brigjen Soedirgo selanjutnya cukup menarik. Oktober 1966, setelah Soeharto mulai memegang ‘sebagian’ kekuasaan negara selaku pemegang Surat Perintah 11 Maret 1966, adalah Soeharto sendiri yang menarik Soedirgo menjadi Deputi KIN (Komando Intelijen Negara). Mei 1967 KIN ini dilebur menjadi Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara), dan cukup menakjubkan bahwa Soeharto yang telah memegang kekuasaan negara sepenuhnya menggantikan Soekarno, malah mengangkat Soedirgo yang sudah berpangkat Mayor Jenderal menjadi Kepala Bakin yang bermarkas di Jalan Senopati di Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Agaknya Soeharto memiliki kebutuhan khusus dari Soedirgo yang di tahun 1965 mendapat perintah menindaki para jenderal yang tidak loyal. Akan tetapi, 21 Nopember 1968, Soeharto memerintahkan pencopotan Soedirgo dari jabatannya di badan intelijen dan setelah itu Soedirgo dimasukkan tahanan. Bersama Soedirgo, beberapa jenderal lain yang di tahun 1965 menjadi lingkaran dalam Soekarno,juga dikenakan penahanan. “Gajah tidak pernah lupa”, kata pepatah. Sebagai pengganti Soedirgo, Soeharto mengangkat lingkaran dalamnya sejak periode Divisi Diponegoro di Jawa Tengah, Yoga Soegama yang kala itu sudah berpangkat Letnan Jenderal.

Ada kesan, perintah menindak yang berulang-ulang disampaikan Soekarno di tahun 1965 itu memang tidak ditindaklanjuti, atau bahkan mungkin memang tidak untuk betul-betul dilaksanakan. Jadinya, perintah untuk bertindak kepada tiga Brigadir Jenderal itu berfungsi seakan-akan sekedar bluffing, yang diharapkan sampai ke telinga para jenderal lain. Kalau suatu tindakan, melalui trio Sabur-Sunarjo-Soedirgo memang betul dimaksudkan untuk dilaksanakan, perintah untuk itu semestinya disampaikan tidak di hadapan khalayak yang cukup banyak untuk ukuran keamanan suatu perintah rahasia. Soekarno pasti tahu itu.

Namun sementara itu, perintah serupa yang disampaikan Soekarno kepada Letnan Kolonel Untung Sjamsuri, 4 Agustus 1965, yang diketahui oleh sedikit orang saja, justru menggelinding. Penyampaian Soekarno kepada Untung ini sedikit tenggelam oleh ‘insiden’ pingsannya Soekarno pagi itu, tak begitu lama setelah pertemuan. Bahkan, fakta pingsannya Soekarno ini, di kemudian hari menimbulkan keraguan apakah betul Untung hari itu memang bertemu dan mendapat perintah dari Soekarno. Tetapi faktanya, segera setelah kepada Untung oleh Soekarno ditanyakan kesediaan dan kesiapannya untuk bertindak menghadapi para jenderal yang tidak loyal yang tergabung dalam apa yang dinamakan Dewan Jenderal, ia ini segera menghubungi Walujo dan menceritakan permintaan Soekarno kepadanya. Walujo, orang ketiga dalam Biro Khusus –Biro Chusus– PKI, lalu meneruskan perkembangan ini kepada Sjam orang pertama Biro Khusus.

Sjam Kamaruzzaman sendiri, setidaknya sejak bulan Agustus itu juga telah punya point-point mengenai situasi yang dihadapi, terkait dengan kepentingan partai dan sebagai hasil diskusinya dengan kalangan terbatas pimpinan partai. Khusus mengenai Letnan Kolonel Untung, baru bisa dibicarakan Sjam dengan Aidit, sepulangnya Ketua Umum CC PKI itu dari Peking. Dan rapat terbatas membahas munculnya sayap militer itu serta perkembangan terbaru sepulangnya Aidit dari Peking itu mulai dilakukan pada 9 Agustus.

Rapat pertama Biro Khusus PKI dengan Letnan Kolonel Untung, secara serius mulai dilakukan 6 September 1965 di Jakarta. Dari Biro Khusus hadir orang kesatu dan kedua, Sjam dan Pono. Sedang para perwira militer yang hadir selain Letnan Kolonel Untung, adalah Kolonel Abdul Latief, Mayor Inf Agus Sigit serta seorang perwira artileri Kapten Wahjudi –yang rumah kediamannya dijadikan tempat rapat malam itu– serta seorang perwira Angkatan Udara Mayor Sujono, komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan Halim Perdanakusumah. Mendapat uraian dari Sjam Kamaruzzaman mengenai situasi terakhir negara, serta adanya sejumlah jenderal yang tergabung dalam Dewan Jenderal  yang akan mengambilalih kekuasaan dari tangan Presiden Soekarno, para perwira menengah itu menyepakati suatu rencana gerakan penangkalan.

Seluruhnya, dengan berganti-ganti tempat, termasuk di kediaman Sjam di Salemba Tengah, hingga tanggal 29 September berlangsung sepuluh pertemuan. Hampir sepenuhnya pertemuan-pertemuan itu berisi rancangan gerakan militer, karena sejak awal mereka sepakat bahwa aspek politik dan ideologis ditangani oleh Sjam dan Pono saja. Rangkaian pertemuan itu pun praktis tak memiliki persentuhan yang nyata dengan PKI, terkecuali kehadiran Sjam dan Pono dari Biro Khusus. Secara berurutan, setelah pertemuan pertama 6 September, berlangsung pertemuan kedua 9 September, ketiga 13 September, keempat 15 September, kelima 17 September, keenam 19 september, ketujuh 22 September, kedelapan 24 September, kesembilan 26 September dan kesepuluh 29 September 1965.

Sampai pertemuan keempat di rumah Kolonel Latief, belum terkonfirmasikan dengan jelas pasukan-pasukan mana yang bisa diikutsertakan dalam gerakan. Barulah pada pertemuan kelima, juga di rumah Kolonel Latief, mulai tergambarkan dengan lebih jelas komposisi pasukan yang bisa diharapkan, yang seluruhnya menurut perhitungan Letnan Kolonel Untung, hampir setara dengan satu divisi. Disebutkan kekuatan yang akan dikerahkan terdiri dari Batalion 530 dari Divisi Brawijaya, Batalion 454 dari Divisi Diponegoro, satu batalion dari Brigif I Kodam Jaya yang dijanjikan Kolonel Latief, satu kompi dari satuan Tjakrabirawa di bawah Letnan Kolonel Untung sendiri, satu kompi di bawah Kapten Wahjudi serta 1000 orang sukarelawan yang telah dilatih oleh Mayor Sujono di daerah Lubang Buaya. Penetapan D-Day dipengaruhi oleh laporan Mayor Sujono bahwa 1000 sukarelawan yang dilatihnya masih memerlukan waktu setidaknya sepuluh hari agar mencapai tingkat combat ready. Faktor lain, karena Letnan Kolonel Untung merasa masih ada kekurangan, dan untuk itu ia mengharapkan adanya satu kesatuan kavaleri dengan 30 tank atau panser. Untung mengharapkan bantuan itu datang dari Divisi Siliwangi, setelah ia mendengar laporan Sjam tentang keberhasilan memperoleh ‘dukungan’ dari Brigjen Rukman, Kepala Staf Kodam Siliwangi.

Tanpa menyebutkan nama, pada pertemuan keenam di rumahnya, Sjam menyebutkan adanya dukungan seorang jenderal terhadap gerakan ini. Dan pada pertemuan ketujuh, 22 September, ditetapkan pembagian tugas per pasukan yang diberi penamaan Pasopati, Bhimasakti dan Gatotkaca. Tugas yang paling khusus, ‘penjemputan’ para jenderal target, diserahkan kepada Pasopati.

Penetapan rencana pembentukan Dewan Revolusi dilakukan dalam pertemuan kedelapan, 24 September, di rumah Sjam. Pertemuan yang terjadi tujuh hari sebelum 1 Oktober 1965 itu, termasuk pertemuan penting karena di situ perencanaan makar mencapai puncaknya dengan kehadiran lengkap seluruh pendukung gerakan dan tercapainya kesepakatan pembentukan Dewan Revolusi. Semula nama yang dipilih adalah Dewan Militer, tetapi menurut Sjam, Aidit berkeberatan dan mengusulkan penggunaan nama Dewan Revolusi agar cakupannya lebih luas, tidak terdiri dari kalangan militer saja. Semula, dalam Dewan Militer, selain nama para perwira pelaksana gerakan, disebutkan nama dua panglima angkatan, yakni Laksamana Madya Udara Omar Dhani dan Laksamana Madya Laut RE Martadinata. Itulah pertama kali nama Aidit  dikaitkan dengan gerakan, meskipun hanya melalui ucapan Sjam, tapi sejauh hingga saat itu, Aidit tak pernah hadir dalam pertemuan.

Salam: Soekarno

11 Komentar

  1. Dalam suasana keruh, tidak tahu mana belut dan mana ular……. ini hanya kisah dan bukan sejarah itu sendiri. Sejarah selalu diam…. dan manusia yang berkisah bukan pelaku sejarah karena dia hanya segelintir dari hutan sejarah……… Biar Tuhan yang bertindak…..

  2. setiap tulisan di blog ini, kok gak pernah mencantumkan sumbernya sih? ini cerita atau fakta sejarah…..???????

  3. berharap pada true story

  4. Salam Revolusi Jilid II

    Sosok Jiwa Sang Pemimpin (Soekarno), yang tidak akan pernah terlupakan hingga Dunia Kiamat Tiba/Datang, alm.Bung Karno Pemimpin yang Kekal Abadi yang dikenang sepanjang masa,

  5. yang jelas fakta sejarahnya memang pki sengaja pasang dibelakang layar seolah hanya konflik internal AD.

    Benar atau salah itu tergantung dari kepentingan politik mana. Saat itu bung Karno dianggap para dewan jendral (A yani dkk) akan membawa indonesia ke arah TIDAK BENAR misal terlalu condong ke blok timur (sovyet/Cina) dengan anak emasnya PKI, menjadikan presiden seumur hidup, mengajak perang dengan Malaysia yg didukung Inggris, Ausie, N Zaeland. PKI bermanuver internal AD mencari perwira yg progressive (mendukung PKI). Tapi sayangnya (UNTUNNGNYA) PKI salah perhitungan thd Suharto, mungkin perkiraannya Suharto bisa dibereskan belakangan atau bahkan mungkin bisa dirangkul nantinya. Karena Suharto waktu itu berpikiran diapun bisa dihabisi PKI maka dengan dukungan korps RPKAD Sarwo Edi bergerak cepat. Tentang gosip apakah Suharto sudah diberitahu Abdul Latif (teman seperjuangan sekaligus tokoh G30S) tentang rencana G30S wallahualam, tapi dari baca banyak sumber, keyakinan saya Suharto maksimum hanya sebatas dengar selentingan tapi tidak mau dengar apalagi menjadi bagian rencana komplotan, makanya dia paling siap menumpas ketika orang-orang masih pada bingung. Kembali kepada Benar atau salah itu tergantung dari kepentingan politik mana saya rasa sebagian besar bangsa Indonesia berterimakasih kepada Suharto yang menyelamatkan bangsa Indonesia dari pengaruh komunis yang tidak cocok untuk kehidupan indonesia. Waktupun menjawab ternyata dari negeri asalnya komunis tidak laku. Tinggal Korea Utara dan kuba yang kita tahu lebih dikatator dari kerajaan monarki sekalipun seperti brunei&Saudi. Tentang gosip apakah Suharto dibantu CIA juga wallahualam, tapi yang pasti PKI disokong penuh Cina/Sovyet misal komitmen bantuan persenjataan dalam rangka pembentukan angkatan ke lima yaitu buruh tani dipersenjatai. Coba seandainya komitment bantuan sudah terwujud akan menjadi apa NKRI waktu itu, akan terjadi Civil War. Mungkin Indonesia terpecah seperti Korut dan Korsel, atau Vietnam Utara dan Selatan atau menjadi Jerman Timur dan Barat, atau menjadi Cina daratan dan Taiwan.

  6. tapi perlu diketahui, bahwa berdasar ketikan diatas, sjam menyebut bahwa ada pula dukungan dari satu jendral. itu merupakan tanda tanya bukan

    dari keluarga saya pun pernah dititipkan pesan, beiau eyang saya dan juga guru soeharto pada saat pendidikan di PETA. ia menyampaikan, “kelak nanti orang itu akan memakan temannya sendiri”.

    banyak faktor yang berpandangan dari berbagai pihak, tapi coba bayangkan saja, pada masa itu soeharto yang memegang kekuasaan. siapa yang salah bisa dibinasakan. ia selalu menghapus jejak emas pada masa itu.

    contoh pada masa itu jendral Hoegeng (polisi) yang tahu persis kotor dan bengisnya soeharto, pada akhirnya ditawari menjadi dubes karena ingin mematikan karirnya tetpa ditolak dan akhirnya mengundurkan diri, pengawal pribadi soekarno yg tahu jelas cerita G30S mangil dan saelan yang dimasukkan penjara hingga jendral marinir Hartono yang mengetahui persis SP11MARET yang dinyatakan bunuh diri di kediamannya, padahal secara ilmiah letak proyektil bersarang bukan posisi bunuh diri tetapi dibunuh.

    dan pembohongan yang lebih besar lagi adalah peristiwa kuning, berdasar sumber kisah dari ayah saya yg klahiran 1950.

  7. @hani situ kok “berkayakinan penuh” bahwa PKI dibantu oleh RRT/soviet??? lah pas PKI kolaps baik RRT/soviet tidak mengulurkan tangan tuh untuk membantu para “kamerad” mereka yg diburu dan dibantai tentara…..juga ttg 1 juta senjata chung yg dijanjikan mao zedong untuk disumbangkan bagi angkatan ke V terbukti hanya isapan jempol saja…situ juga tulis “bangsa indonesia berterima kasih terhadap HARTO” kok bisa2xnya ambil kesimpulan naif kek gini yahhh?😛 KSAU umar dhani pernah bilang bahwa “operasi senyap G30S” adalah salah satu operasi intelejen paling rumit dan paling rahasia di dunia dan melibatkan sistem yg kompleks dipersiapkan sejak lama juga dengan dukungan dana yg tak terbatas…jadi kalo hanya seorang HARTO mampu melakukan operasi ini TIDAKLAH MUNGKIN !…argumen sampeyan ttg “salah perhitungganya” PKI thd HARTO dibilang blunder terbesar dari komen sampeyan….HARTO telah menjalin jaringan yg luas dengan para “kamerad” nya macam untung dan latief sejak lama….latief justru lapor ke harto di RSPAD untuk minta petunjuk kok….dan di memoarnya HARTO malah ngibul bahwa latief dateng ke RSPAD mao ngebunuhnya LoL….kalo CIA/MI6 dkk enggk ngebantu HARTO kenapa ujug2x HARTO “mengundang” korporasi2x raksasa kapitalis untuk menghancurkan ALAM indonesia melalui UU No. 1 tahun 1967 ttg penanaman modal asing? dilanjutkan dengan perjanjian kontrak karya puluhan tahun dengan freeport….HARTO harus balas jasa dengan cara menjual bangsa dan negaranya sendiri😉

  8. yang pasti jaman pak harto semua murah, begal, maling, penjahat ndak kaya sekarang! dibilang pak harto korup, tp pejabat sekarang jauh lebih anarkis korupsinya

  9. @atas gw dasar dodollll kek kaset russak lo…..mbok cari argumen yg agak intelek napah


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s